Kendaraan yang kau Naiki

*═════ ◎•❀•◎﷽◎•❀•◎ ═════*

*BEKAL PERJALANAN*

🪶 Betapa sibuknya kita ketika hendak bepergian jauh. Lihat saja pada libur panjang dalam _“acara mudik lebaran.”_ Berbagai kebutuhan kita siapkan bahkan jauh sebelum hari keberangkatan datang. Semua, karena kita tak ingin mendapat halangan baik sebelum atau di tengah perjalanan sehingga mengakibatkan kita tak bisa sampai ke tempat tujuan.

Akhirnya tidak sedikit di antara kita yang kemudian benar-benar mempersiapkan segalanya. Bahkan saking banyaknya, perbekalannya tidak mampu dibawa kecuali harus dengan kendaraan. Inilah yang diungkapkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya berkaitan dengan salah satu hikmah dan manfaat dari hewan ternak:

وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَّمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنفُسِ ۚ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

_"Dan ia (hewan ternak itu) memikul beban-bebanmu menuju suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."_ (QS. Al-Nahl: 7)

🍂 Sejenak kalau direnungkan, jika demikian keadaan kita dalam mempersiapkan bekal perjalanan dunia lantas bagaimanakah dengan perjalanan akhirat yang tentu lebih jauh dan melelahkan?! Inilah yang diungkapkan oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, setelah beliau menyebutkan ayat tadi beliau kemudian berkata:

فَهَذَا شَأْنُ الاِنْتِقَالِ فِي الدُّنْيَا مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ، فَكَيْفَ الاِنْتِقَالُ مِنَ الدُّنْيَا إِلَى دَارِ القَرَارِ

_“Ini adalah perpindahan di dunia dari satu negeri ke negeri yang lain. Lantas bagaimana dengan perpindahan dari dunia menuju negeri keabadian?!”_ (Miftah Dar as-Sa’adah: 1/26)

Sudah barang tentu jauh lebih membutuhkan perbekalan. Karenanya Umar bin Abdul Aziz rahimahullah dahulu pada khutbahnya pernah mengatakan:

 إِنَّ لِكُلِّ سَفَرٍ زَادًا لَا مَحَالَة، فَتَزَوَّدُوْا لِسَفَرِكُمْ مِنَ الدُّنْيَا إِلَى الآخِرَة

_“Sesungguhnya setiap perjalanan pasti membutuhkan bekal, maka berbekallah untuk perjalanan kalian dari dunia menuju akhirat.”_ (Hilyahtul Auliya’ cet. Darul Fikr: 5/291)

✍🏻 Oleh sebab itu, betapa tidak bijaknya jika untuk perjalanan dunia kita kerahkan segenap kemampuan untuk menyiapkan perbekalan sedangkan untuk perjalanan akhirat yang jauh lebih panjang, berat dan melelahkan kita hanya biasa-biasa saja. Seolah tak peduli padahal perjalanan itu pasti akan kita lalui.

Maka sekarang, mari mempersiapkan bekal perjalanan ini. Jangan katakan “esok, lusa atau nanti”, tapi mulailah detik ini. Perjalanan ini sangat panjang, kematian pasti datang. Sedang kita tak tahu kapan ia menjelang.

*🔰Semoga bermanfaat.*

Level Istilah Silsilah Jawa

 

10 Level Istilah Silsilah

Berikut adalah istilah untuk level keturunan (ke bawah) dan level leluhur (ke atas) dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa, setiap level garis keturunan mempunyai istilah sampai tingkat sepuluh ke atas dan sepuluh ke bawah.

10. galih asem (mbah galih asem)
9. debog bosok (mbah debog bosok)
8. gropak sente (mbah gropak sente)
7. gantung siwur (mbah gantung siwur)
6. udeg-udeg (mbah udeg-udeg)
5. wareng (mbah wareng)
4. canggah (mbah canggah)
3. buyut (mbah buyut)
2. embah
1. bapak

0. kita/anda

1. anak
2. putu
3. buyut (putu buyut)
4. canggah (putu canggah)
5. wareng (putu wareng)
6. udeg-udeg (putu udeg-udeg)
7. gantung siwur (putu gantung siwur)
8. gropak sente (putu gropak sente)
9. debog bosok (putu debog bosok)
10. galih asem (putu galih asem)

Melihat peristilahan ini, bisa terlihat, sejak keturunan ke tiga, baik ke atas dan/atau ke bawah, nama panggilan yang digunakan adalah sama. Untuk mencegah kekeliruan, level ke atas (leluhur) ditambahkan  embah sebelumnya (misal, mbah buyut, mbah canggah dst), sedangkan level ke bawah (keturunan) ditambahkan istilah putu di depannya (misal putu buyut, putu canggah, putu wareng, dst).

..

Berikut adalah istilah untuk level keturunan (ke bawah) dan level leluhur (ke atas) dalam Bahasa Jawa :

Moyang ke-18. Mbah Trah Tumerah
Moyang ke-17. Mbah Menya-menya
Moyang ke-16. Mbah Menyaman
Moyang ke-15. Mbah Ampleng
Moyang ke-14. Mbah Cumpleng
Moyang ke-13. Mbah Giyeng
Moyang ke-12. Mbah Cendheng
Moyang ke-11. Mbah Gropak Waton
Moyang ke-10. Mbah Galih Asem
Moyang ke-9. Mbah Debog Bosok
Moyang ke-8. Mbah Gropak Senthe
Moyang ke-7. Mbah Gantung Siwur
Moyang ke-6. Mbah Udheg-udheg
Moyang ke-5. Mbah Wareng
Moyang ke-4. Mbah Canggah
Moyang ke-3. Mbah Buyut
Moyang ke-2. Simbah, dalam bahasa Indonesia disebut Eyang
Moyang ke-1. Bapak / Ibu
KITA <====

Keturunan ke-1. Anak
Keturunan ke-2. Putu, dalam bahasa Indonesia disebut “cucu”
Keturunan ke-3. Buyut, dalam bahasa Indonesia disebut “cicit”
Keturunan ke-4. Canggah
Keturunan ke-5. Wareng
Keturunan ke-6. Udhek-udhek
Keturunan ke-7. Gantung siwur
Keturunan ke-8. Gropak Senthe
Keturunan ke-9. Debog Bosok
Keturunan ke-10. Galih Asem
Keturunan ke-11. Gropak waton
Keturunan ke-12. Cendheng
Keturunan ke-13. Giyeng
Keturunan ke-14. Cumpleng
Keturunan ke-15. Ampleng
Keturunan ke-16. Menyaman
Keturunan ke-17. Menya-menya
Keturunan ke-18. Trah tumerah

Semoga manfaat.

Cek Ongkir/pengiriman

Jam

Tanggal

cek