Jamiahan Keluarga Sukareja

                                    Bacaan yang dibaca


                             Di Pimpin H.ust.Abdul Hadi

Mengenali nasab (garis keturunan) itu sangat penting sebab memungkinkan terjalinnya terus-menerus tali persaudaraan. Hal ini dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu álaihi wasallam sebagaimana beliau sabdakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari sebagai berikut:
 اعرفوا أنسابكم تصلوا أرحامكم ، فإنه لا قرب لرحم إذا قطعت ، وإن كانت قريبة ، ولا بعد لها إذا وصلت وإن كانت بعيدة  
Artinya, “Kenalilah nasab-nasabmu, maka tali persaudaraanmu akan terus bersambung. Sesungguhnya jika tali persaudaraan terputus, maka hubungan itu menjadi jauh meskipun sebetulnya dekat. Sebaliknya tali persaudaraan itu menjadi dekat bilamana kamu terus menyambungnya sekalipun telah jauh hubungannya.”

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu álaihi wasallam telah dengan jelas mengisyaratkan bahwa sungguhpun suatu hubungan genealogis telah cukup jauh, tapi bisa dekat ketika jalinan silaturahim terus berlangsung. Dalam struktur silsilah Jawa generasi pertama disebut anak, generasi kedua putu, generasi ketiga buyut, generasi keempat canggah, generasi kelima wareng, generasi keenam udeg-udeg, generasi ketujuh gantung, generasi kedelapan siwur, generasi kesembilan debok bosok, dan generasi kesepuluh galih asem. 
  Hubungan antarsesama generasi keenam (udeg-udeg) atau generasi ketujuh (gantung) misalnya, tentu sudah cukup jauh. Namun, hubungan itu bisa menjadi dekat apabila mereka saling mengenal garis keturunannya dan terus menerus menjalin silaturahim dengan baik. Sebaliknya sungguhpun dekat suatu hubungan genealogis, misal sesama generasi kedua (putu), hubungan mereka bisa jauh apabila sama-sama tidak saling menyadari garis keturunannya.  Ketika di antara mereka yang sesama generasi kedua (putu) tersebut tidak terjalin silaturahim, maka potensi putusnya tali persaudaraan mereka cukup besar. Inilah yang sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah agar jangan sampai terjadi pada umat beliau.  Peringatan Rasulullah shallallahu álaihi wasallam tersebut penting untuk diperhatikan sebab dalam hadits yang lain beliau bersabda:
   تعلموا من أنسابكم ما تصلون به أرحامكم ، فإن صلة الرحم محبة في الأهل مثراة في المال، منسأة في الأثر 
Artinya, “Belajarlah dari nasab-nasabmu hal-hal yang mempererat persaudaraan, sesungguhnya mempererat persaudaraan menumbuhkan kecintaan terhadap sanak saudara, memperbanyak rejeki (harta), dan memperpanjang umur.” (HR. Tirmidzi) Jadi menjalin silaturahim dengan sanak saudara yang memiliki hubungan nasab itu penting, terlebih di saat-saat Lebaran dimana terdapat banyak kesempatan karena merupakan hari-hari libur secara nasional. Tradisi pertemuan antar bani atau ahlen dan saling berkunjung ke rumah sanak saudara adalah salah satu contoh cara bagaimana kedua hadits di atas diamalkan.  Di balik itu semua, ternyata terdapat banyak hikmah sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, yakni: 
Pertama, menumbuhkan cinta di dalam internal sanak saudara yang memungkinkan terjadinya gotong royong atau saling menolong. Juga tidak menutup kemungkinan terjalinnya hubungan yang lebih dekat lagi, seperti perkawinan (dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat).  
Kedua, memperbanyak rezeki (harta). Semua rejeki berasal dari Allah subhanu wata’ala karena Dia-lah Sang Pemberi Rejeki. Tetapi tanpa bersosialisasi dengan sesama manusia, rejeki sulit didapat sebab seringkali rejeki dihasilkan dengan berinteraksi dan komunikasi. Silaturahim dengan sanak saudara memperluas wilayah jangkauan rejeki.  
 Ketiga, memperpanjang umur. Kalimat ini bisa bermakna harfiah, dan bisa pula bermakna majaz. Silaturahim dengan sanak saudara memperpanjang umur bisa berarti Allah akan memberi umur panjang seperti usia bisa mencapai lebih dari 70 tahun. Dalam makna majaz, hal ini bisa berarti seseorang mendapat banyak kesempatan berbuat kebaikan meski usianya sendiri relatif pendek sehingga amal kebaikannya setara dengan mereka yang berumur panjang.  Itulah pentingnya ahlen dan saling berkunjung antar saudara di Hari Lebaran. Kedua tradisi ini hanyalah sebagian dari teknis atau cara bagaiamana kedua hadits di atas diamalkan. Persoalan adanya tuduhan bidáh dari pihak tertentu, tidak perlu kita cemaskan. Bukankah kita telah memahami bahwa kategori bidáh ada lima, yakni: haram, sunah, wajib, makruh, dan mubah sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami, dalam kitab Al-Qawaídu Al-Kubra, Al-Mausum bi Qawaidil Ahkam fi Ishlahil Anam, hal. 337. 

Haram dinikahi.Siapa sajakah Yang Termasuk Mahram !


Manusia diciptakan Allah Swt sebagai makhluk yang memiliki hasrat dan kebutuhan yang harus dipenuhi yaitu kebutuhan jasmani dan rohani. Untuk memenuhi dua kebutuhan itu, agama Islam telah memberikan jalan yang diridhai Allah Swt dan bertujuan untuk menjaga harkat, martabat serta kehormatan sebagai manusia.
Caranya adalah dengan melaksanakan antara dan .

Pernikahan adalah salah satu sunah Rasulullah saw juga sebagai jalan untuk menyempurnakan agama seseorang. Tidak hanya itu, merupakan fase suci yang di dalamnya terdapat akad (ijab dan kabul) sehingga menyebabkan bolehnya mengambil kenikmatan jasmani dan rohani antara kedua belah pihak ( dan ) menurut syariat.
Untuk melaksanakan suatu , seseorang harus paham siapa saja atau yang dibolehkan untuk menikah dan yang diharamkan untuk menikah.
Bagi yang haram untuk dinikahi oleh seorang karena suatu sebab tertentu disebut . Haramnya untuk dinikahi tersebut digolongkan menjadi dua macam . Pertama hurmah mu’abbadah (haram selamanya) dan kedua hurmah mu’aqqatah (haram dalam waktu tertentu).
Hurmah mu’abbadah terjadi karena sebab hubungan kekerabatan, hubungan permantuan (mushaharah) dan hubungan sepersusuan. Di dalam Al-Qur'an Allah Swt berfirman:
ISTIMEWA

Artinya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang , saudara-saudaramu yang , saudara-saudara bapakmu yang , saudara-saudara ibumu yang , anak dari saudara-saudaramu yang , ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara sepersusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 23).
Ketentuan dalam ayat di atas berlaku bagi . Sedangkan bagi berlaku sebaliknya, yaitu haram bagi mereka menikahi ayah, anak , saudara , dan seterusnya.
Secara lebih rinci, mereka yang haram dinikahi disebabkan karena sepersusuan ada 7 macam yaitu, ibu yang menyusui, saudara susuan, anak saudara susuan, anak saudara susuan, saudara susuan ayah, saudara susuan ibu, dan anak susuan (yang menyusu pada istri).
Sedangkan yang haram dinikahi karena hubungan permantuan ada 4 macam yaitu istrinya ayah, istrinya anak , ibunya istri (mertua), dan anak nya istri (anak tiri).
Demikianlah aturan menikah dalam agama Islam demi kebaikan umatnya. Jika hubungan darah yang menyebabkan haramnya menikah dilanggar, dikhawatirkan akan menyebabkan sesuatu hal yang lebih berat (madharat) di kemudian hari.
Wallahu a'lam.

Tidak Ada Hadis Tentang Rasulullah Pakai Celana Cingkrang


Ikhwan Salafi yang menghukumi sunnah memakai celana cingkrang adalah dari hasil Qiyas (analogi) pada hadis larangan Isbal (memanjangkan pakaian di bawah mata kaki) maupun keumuman hadis larangan isbal pada pakaian. Sebab tidak ditemukan dalil hadis bahwa Rasulullah pernah memakai celana apalagi penjelasan celana beliau di atas mata kaki.
ﻓﻼ ﻳﺘﺠﻪ اﻟﻘﻮﻝ ﺑﻨﺪﺏ ﻟﺒﺲ اﻟﺴﺮاﻭﻳﻞ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻷﻧﻪ ﺣﻜﻢ ﺷﺮﻋﻲ ﻻ ﻳﺜﺒﺖ ﺇﻻ ﺑﺤﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺃﻭ ﺣﺴﻦ

“Dengan demikian tidak dapat diterima pendapat yang menghukumi sunnah memakai celana. Sebab hal itu adalah hukum syariat yang tidak dapat ditetapkan kecuali dengan hadis shahih atau hasan.” (Faidh al-Qadir 1/109)
Sementara hadis yang melarang isbal adalah teks berupa izar. Izar adalah pakaian yang dikenakan di tubuh bagian bawah. Dalam kitab-kitab hadis celana memiliki bahasa sendiri yakni sirwal (jamak sarawil). Sementara Sirwal ini tidak masuk dalam teks hadis larangan isbal (memanjangkan pakaian melebihi mata kaki). Berikut adalah hadisnya:
ﻋَﻦْ ﺳَﺎﻟِﻢِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ اﻟﻠَّﻪِ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ، ﻋَﻦِ اﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: اﻹِْﺳْﺒَﺎﻝُ ﻓِﻲ اﻹِْﺯَاﺭِ، ﻭَاﻟْﻘَﻤِﻴﺺِ، ﻭاﻟﻌﻤﺎﻣﺔ، ﻣَﻦْ ﺟَﺮَّ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺧُﻴَﻼَءَ، ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮِ اﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻳَﻮْﻡَ اﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ



“Dari Salim, dari ayahnya Abdullah, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, bersabda, ‘Isbal terdapat dalam pakaian bagian bawah tubuh, gamis dan surban. Barangsiapa menjulurkan ketiganya ke bawah mata kaki secara sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya -dengan rahmatNya- di hari kiamat.’” (HR Abu Dawud)
Selain izar dikategorikan dalam anjuran diangkat di atas mata kaki adalah berdasarkan keumuman hadis atau Qiyas. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata:
وَقَالَ الطَّبَرِيُّ : إِنَّمَا وَرَدَ الْخَبَر بِلَفْظِ الْإِزَار لِأَنَّ أَكْثَر النَّاس فِي عَهْده كَانُوا يَلْبَسُونَ الْإِزَار وَالْأَرْدِيَة ، فَلَمَّا لَبِسَ النَّاس الْقَمِيص وَالدَّرَارِيع كَانَ حُكْمهَا حُكْم الْإِزَار فِي النَّهْي . قَالَ اِبْن بَطَّال : هَذَا قِيَاس صَحِيح لَوْ لَمْ يَأْتِ النَّصّ بِالثَّوْبِ ، فَإِنَّهُ يَشْمَل جَمِيع ذَلِكَ
“Ath-Thabari berkata, ‘hadis hanya menjelaskan berupa izar sebab kebanyakan Sahabat di masa Nabi memakai izar dan selendang. Ketika umat Islam memakai gamis dan baju perang maka hukumnya sama dengan izar dalam hal larangan isbal. Ibnu Bathal berkata, ‘Ini adalah Qiyas yang shahih, andaikan tidak ada nash (dalil Qur’an dan Sunnah) yang menyebutkan pakaian. Sebab pakaian itu mencakup keseluruhan.’” (Fath Al-Bari 16/331)
Sekali lagi, kita menerima metode ijtihad Qiyas, menyamakan suatu hal dengan hukum yang sudah ada. Dalam madzhab Syafi’i Qiyas merupakan salah satu metode ijtihad. Jika Salafi yang selama ini kita kenal tekstulalis dalam menerapkan hukum ternyata dalam hal celana cingkrang sebagai identitas penampilan mereka tidak berdasarkan teks, namun Qiyas.
Anehnya saat mereka mau melakukan metode dalil Qiyas dalam celana cingkrang, mestinya mereka juga menerima metode Qiyas lainnya, seperti kirim pahala Al-Qur’an yang diqiyaskan dengan hadis sedekah atas nama mayat, membaca Fatihah untuk mayat yang diqiyaskan dengan hadis Sahabat yang membacakan Fatihah sebagai ruqyah saat kepala suku digigit hewan berbisa dan sebagainya.
Jika pada Qiyas mereka sendiri menerima namun tidak menerima Qiyas dari madzhab lain, berarti mereka memang ingin selalu berbeda dan tidak pernah mau sama dengan selain kelompoknya.

SEBERAPA BESAR MANFAAT ILMU AGAMA UNTUK KEHIDUPANMU



*بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم*ِ

Jika engkau masih ingin tahu seberapa besar manfaat ilmu agama untuk kehidupanmu,

Coba dengar perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA : "Ilmu lebih baik daripada harta benda, ilmu akan menjagamu di setiap saat, akan tetapi engkau menjaga harta. Ilmu menjadi bertambah jika diinfakkan (diajarkan), akan tetapi harta berkurang jika diinfakkan. Ilmu kelak menjadi hakim bagimu, sedangkan harta akan menghakimimu. Ilmu menjadikan seseorang taat semasa hidupnya dan dikenang kebaikannya ketika wafat.

Dan beliau juga berkata :

```ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺟﻬﺔ ﺍﻟﺘﻤﺜﻴﻞ ﺃﻛﻔﺎﺀ ۝ ﺃﺑﻮﻫﻢ ﺁﺩﻡ ﻭﺍﻷﻡ ﺣﻮﺍﺀ```

"Manusia dari permisalannya semua sama... Ayah mereka Nabi Adam dan ibu mereka Sitti Hawa.

```ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻬﻢ ﻓﻲ ﺃﺻﻠﻬﻢ ﺷﺮﻑ ۝ ﻳﻔﺎﺧﺮﻭﻥ ﺑﻪ ﻓﺎﻟﻄﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺎﺀ```

Jika mereka tidak memiliki leluhur yang mulia yang mereka berbangga dengannya... (maka katakan) engkau tercipta hanya dari tanah dan air.

```ﻣﺎﺍﻟﻔﺨﺮ ﺇﻻ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺇﻧﻬﻢ ۝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻬﺪﻯ ﻟﻤﻦ ﺍﺳﺘﻬﺪﻯ ﺃﺩﻻﺀ```

Tidak ada kebanggaan kecuali bagi orang yang berilmu... Mereka senantiasa mendapat petunjuk bagi orang-orang yang mencari petunjuk.

```ﻭﻗﺪﺭ ﻛﻞ ﺍﻣﺮﺉ ﻣﺎﻛﺎﻥ ﻳﺤﺴﻨﻪ ۝ ﻭﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻮﻥ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻋﺪﺍﺀ```

Dan kadar kemuliaan setiap orang adalah perbuatan baiknya... Adapun orang-orang yang bodoh adalah 'musuh' orang-orang yang berilmu.

```ﻓﻔﺰ ﺑﻌﻠﻢ ﺗﻌﺶ ﺣﻴﺎ ﺑﻪ ﺃﺑﺪﺍ ۝ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻮﺗﻰ ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﺣﻴﺎﺀ```

Maka carilah keberuntungan dengan ilmu, dengannya engkau senantiasa hidup... Orang-orang semasanya mati (hati mereka) sedangkan yang ahli ilmu selalu hidup (hatinya)."
Hati para pemilik ilmu senantiasa ingat kepada Allah, mereka mengetahui bagaimana bermu'amalah dengan Sang Pencipta. Pemilik ilmu seperti para 'Ulama adalah penerang di bumi, pemberi kabar gembira setelah para Nabi, Allah cegah musibah dan petaka karena keberadaan mereka, mereka adalah pengemban amanat Rasul, penyambung lidah dari setiap perkataan, perbuatan dan langkah Rasulullah SAW. Ilmu juga penunjuk jalan menuju syari'at Allah dan Rasul-Nya.

Kehadiran orang-orang berilmu atau para 'Ulama semasa hidup merupakan manfaat bagi ummat, begitu pula setelah wafatnya. Pahala dari ilmu yang diajarkan senantiasa mengalir, kebaikan yang ditanam senantiasa tumbuh dan amal perbuatan mereka tidak pernah terputus.

Rasulullah SAW bersabda : "Apabila meninggal seorang manusia terputuslah semua amal perbuatannya kecuali tiga hal ; sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat baginya dan anak yang sholeh yang selalu mendo'akan orang tuanya."
(Shahih Muslim, Hadits: 1631, hal: 1255)

Belajarlah wahai saudara/saudariku.. Bukankah Allah juga telah memuliakan manusia dengan akal yang dengannya membedakan manusia dengan makhluk-makhluk yang lain. Akal digunakan untuk berfikir, dan fikiran yang baik perlu terhadap ilmu, dan ilmu bisa didapat dengan belajar.

Engkau tahu warisan Nabimu Muhammad SAW bukan dinar ataupun dirham, beliau hanya mewariskan ilmu agama dan akhlak yang baik. Warisan tersebut bukan hanya untukmu, tetapi untuk semua ummatnya. Maka carilah ilmu, karena tiada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Seorang 'Ulama berkata :

"Belajarlah ! Karena tidak seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu... Dan orang yang berilmu jelas tidak sama dengan orang yang bodoh. Sesungguhnya pemimpin suatu kaum jika tidak memiliki ilmu... Terlihat kecil di mata para kafilah-kafilah yang lewat di depannya."

Para Salafu-Shalih memulai langkah mereka dengan mencari ilmu agama. Mereka tekun di dalam mencarinya, karena mereka tahu nilai ilmu agama di sisi Allah SWT. Mereka memperbaiki ibadah dan bermu'amalah dengan Tuhannya, mencari ridho-Nya, meminta pengampunan-Nya, semua itu mereka raih dengan ilmu yang dimilikinya. Setelah mu'amalah mereka baik dengan Allah, perbuatan mereka diridhoi oleh-Nya, maka Allah berikan kepada mereka anugerah dan karunia, Allah berikan kepada mereka derajat kewalian, hingga kapanpun mereka meminta, Allah mengabulkannya dan melebihkan pemberian-Nya.

Ingatlah, tidak ada seorang wali yang diangkat dalam keadaan bodoh atau tidak mengetahui hukum syari'at.

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata :

```ﻣﺎﺍﺗﺨﺬ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﻴﺎ ﻣﻦ ﺭﺟﻞ ﺟﺎﻫﻞ، ﻟﻮ ﺇﺗﺨﺬﻩ ﻟﻌﻠﻤﻪ```

"Allah tidak mengangkat seorang wali dari orang yang bodoh, kalaupun Allah mengangkatnya niscaya Dia mengajarinya."
Setelah Salafus-Shalih sampai ke martabat yang diridhoi Allah SWT, mereka ingin anak-anak mereka dan keturunannya merasakan apa yang dirasakannya dan memperoleh apa yang telah diperolehnya. Wasiat pertama para leluhur mereka pasti menyuruh untuk mencari ilmu agama.

Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thahir berkata :

```ﻭﺍﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﺒﺎﺡ ﻭﻣﻤﺴﻰ ۝ ﻭﺑﻠﻴﻞ ﻭﺑﺎﻟﻌﺸﻲ ﻭﺍﻟﺒﻜﻮﺭ```

"Carilah ilmu setiap pagi dan sore... Dan setiap malam dan siang hari.

```ﺇﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻛﻞ ﻓﻮﺯ ﻭﻧﺠﺢ ۝ ﺇﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻛﻞ ﺧﻴﺮ ﻭﻧﻮﺭ```

Sungguh di dalam ilmu terdapat keberuntungan dan keberhasilan... Sungguh di dalam ilmu terdapat cahaya dan kebaikan.

```ﻓﺒﻪ ﺗﻌﺮﻑ ﺍﻹﻟﻪ ﻭﺗﻌﺮﻑ ۝ ﻛﻞ ﺃﻣﺮ ﻓﻲ ﻭﺭﺩﻩ ﻭﺍﻟﺼﺪﻭﺭ```

Dengan ilmu engkau mengetahui hakikat Tuhanmu... engkau juga akan tahu setiap perkara zhohir dan bathinnya."

Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi juga berkata :

```ﻭﻓﻲ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﺗﻮﺟﻬﻮﺍ ۝ ﺑﺠﺪ ﻭﺗﺸﻤﻴﺮ ﻭﺗﺮﻙ ﻟﻤﻌﺘﺎﺩ```

"Carilah ilmu agama yang mulia ini dengan semangat dan sungguh-sungguh... Serta meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk.

```ﻓﻔﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻧﻮﺭ ﻟﻠﻔﺆﺍﺩ ﻭﺑﻬﺠﺔ ۝ ﻭﻣﻴﺮﺍﺩﻩ ﻟﻠﻌﺒﺪ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻴﺮﺍﺩ```

Di dalam ilmu tersebut terdapat cahaya untuk hati dan penerang... Dan manfaatnya bagi hamba adalah sebaik-baik manfaat.

```ﺑﻪ ﻳﻌﺮﻑ ﺍﻹ ﻧﺴﺎﻥ ﺣﻖ ﺇﻟﻬﻪ ۝ ﻓﻴﻬﺪﻯ ﺑﻪ ﺍﻟﻐﺎﻭﻱ ﻭﻳﺮﻭﻯ ﺑﻪ ﺍﻟﺼﺎﺩﻱ```

Dengan ilmu seseorang mengetahui hak-hak Tuhannya... Diberi petunjuk kepada orang yang lalai dan diberi minum orang yang haus karunia dari-Nya."

Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad berkata :
"Seharusnya bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengetahui ilmu agama, tidak pula ada alasan bagi seorang dari orang-orang muslim untuk meninggalkannya, yaitu ilmu yang tidak sah keimanan dan keislamannya kecuali dengan mengetahuinya."

Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih (Al Quthub Al Habrar, Darul Hadits Malang) berkata :
"Ketika kita mencari ilmu, mungkin kita bisa mendapatkannya dari kitab atau buku, namun ketika kita mencari berkahnya, tidaklah kita akan mendapatkannya kecuali dengan dekatnya kita kepada orang-orang sholeh.."

"Barangsiapa yang merasa cukup bahwa gurunya itu adalah kitab atau buku, maka sesungguhnya guru orang tersebut adalah setan..."


*۞اَللّٰهُـــــمَّ صَلِّ عَلَی سَيِّـــــدِنَا مُحَمَّـــــدٍ وَعَلَی آلِ سَيِّـــــدِنَا مُحَمَّـــــدٍ۞*

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹‎

Pertanyaan Bocoran Malaikat Dalam Kubur


KH. Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha’ suatu kali berkelakar.

Ia pernah didatangi sekelompok guru yang mencoba melegalkan membocorkan soal ujian nasional, dengan dasar bahwa Nabi Muhammad saja pernah membocorkan soal ujian Malaikat Munkar-Nakir. Meski apa yang dilakukan guru itu tentu saja tidak tepat, tapi ungkapan serta pemahamannya tentang adanya “bocoran soal ujian alam kubur” menarik untuk dikaji.

Di antara hal ghaib yang wajib diyakini berdasar keterangan al-Qur’an hadis adalah adanya alam Barzakh atau alam kubur. Yaitu tempat di antara dunia dan akhirat. Di alam tersebut, manusia didatangi oleh Malaikat Munkar dan Nakir dan ditanyai seputar permasalahan tauhid. Hadis tentang kelak akan ada pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur dapat disimak, salah satunya dalam riwayat Imam Abi Dawud berikut ini:

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ وَفِى يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ بِهِ فِى الأَرْضِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ :اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا – زَادَ فِى حَدِيثِ جَرِيرٍ هَا هُنَا – وَقَالَ : وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ حِينَ يُقَالُ لَهُ : يَا هَذَا مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ

“Diriwayatkan dari al-Barra’ ibn ‘Azib ia berkata, kami keluar bersama Rasulullah SAW mengiring jenazah seorang lelaki dari kaum Anshar. Lalu kami sampai di makam. Saat makam digali, Rasulullah duduk dan kami duduk di sekitar beliau, seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung.
Di tangan Nabi ada kayu yang Beliau pukulkan ke bumi. Beliau lalu mengangkat kepala-Nya dan bersabda, ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur. Beliau mengucapkannya dua atau tiga kali.
Dalam riwayat Jarir terkait hadis ini ada tambahan dan Nabi bersabda, ‘Dan si mayit mendengar diangkat serta diletakkannya sandal mereka (para peziyarah) ketika mereka berpaling, saat ditanyakan pada si mayit: Hai manusia, siapa tuhanmu, apa agamamu dan siapa nabimu?

قَالَ :وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ : رَبِّىَ اللَّهُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا دِينُكَ فَيَقُولُ : دِينِى الإِسْلاَمُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ قَالَ فَيَقُولُ : هُوَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَيَقُولاَنِ : وَمَا يُدْرِيكَ فَيَقُولُ : قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ. قَالَ : فَيُنَادِى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ : أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِى فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ

Nabi bersabda: ‘Dua malaikat mendudukkan dan berkata padanya: ‘Siapa tuhanmu?’ si mayit menjawab ‘Tuhanku Allah.’ Keduanya berkata padanya, ‘Apa agamamu?’ si mayit menjawab, ‘Agamaku Islam.’ Keduanya bertanya padanya, ‘Bagaimana menurutmu orang yang diutus pada kalian?’ si mayit menjawab, ‘Ia adalah utusan Allah.’ Keduanya bertanya: ‘Apa yang membuatmu mengetahuinya?’ ia menjawab: ‘Aku membaca Al-Qur’an lalu meyakini dan membenarkannya.’ Nabi melanjutkan, ‘Lalu ada sosok berseru dari langit, ‘Hambaku berkata benar. Persiapkan tempatnya di surga. Bukakan satu pintu menuju surge dan pakaikan padanya pakaikan surga.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa ulama’ dan dinyatakan Imam at-Tirmidzi sebagai hadis sahih. Keberadaan hadis ini memberitahu akan beberapa hal:

Pertama, rahmat Allah lewat keterangan Nabi Muhammad. Hadis ini menjadi rahmat dari Allah sebab seharusnya hal-hal bersifat ghaib seperti peristiwa di alam kubur menjadi hal samar bagi manusia. Karena dikehendaki oleh Allah disampaikan oleh Nabi Muhammad, maka manusia pun menjadi tahu.

Kedua, kandungan hadis ini dapat menjadi bahan persiapan menghadapi kehidupan setelah kematian. Manusia menjadi bisa mempersiapkan diri. Berdoa untuk diselamatkan dari adzab kubur, dan menanamkan tauhid pada diri sendiri.

Ketiga, orang yang tak perduli dengan kandungan hadis ini sehingga mengabaikan persoalan tauhid adalah manusia yang keterlaluan sebab enggan mempersiapkan kematiannya. Karena pertanyaan-pertanyaan itu sudah diberitahukan sebelum mengalami kematian. Maka sungguh keterlaluan bila manusia tidak bisa menjawab.

Keempat, pentingnya keberadaan talqin. Adanya keterangan Nabi bahwa mayit bisa mendengar derap langkah orang-orang yang menziarahinya, dipadukan adanya pertanyaan-pertanyaan malaikat, menunjukkan pentingnya talqin.

Talqin adalah bentuk doa kepada Allah serta berharap si mayit yang mungkin berada di hadapan malaikat dengan berbagai keadaan, dapat mendengar arahan dari yang masih hidup tentang adanya sabda Nabi. Sehingga lebih mudah dalam menjawab siapa Tuhanmu? Apa Agamamu? Apa Kitabmu? Dan siapa Nabimu?

Sesudah Sholat Bersalaman


Bersalaman setelah shalat adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam karena bisa menambah eratnya persaudaraan sesama umat Islam. Aktifitas ini sama sekali tidak merusak shalat seseorang karena dilakukan setelah prosesi shalat selesai dengan sempurna. Meskipun demikian, banyak orang yang mempertanyakan tentang hukum bersalaman, perbincangan seputar ini masih terfokus tentang bid’ah tidaknya bersalaman ba’das sholat. Inilah yang perlu dijelaskan lebih lanjut.
 Ada beberapa hadits yang menerangkan tentang bersalaman diantaranya adalah riwayat Abu Dawud: عَنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا
Artinya :
 Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah s.a.w. bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

 عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِهِ يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ

Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya. (H.R. Bukhari, hadits ke 3360).

 عَن قلَدَة بن دِعَامَة الدَّوْسِيْ رَضِيَ الله عَنهُ قالَ قلْتُ لاَنَسْ : اَكَانَتِ اْلمُصَافحَة فِى اَصْحَابِ رَسُوْلِ الله, قالَ نَعَمْ
Artinya :
Dari Qaladah bin Di’amah r.a. berkata : saya berkata kepada Anas bin Malik, apakah mushafahah itu dilakukan oleh para sahabat Rasul ? Anas menjawab : ya (benar) Hadits-hadits di atas adalah menunjuk pada mushafahah secara umum, yang meliputi baik mushafahah setelah shalat maupun di luar setelah shalat. Jadi pada intinya mushafahah itu benar-benar disyariatkan baik setelah shalat maupun dalam waktu-waktu yang lainnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits di atas. Pendapat para ulama.
 1.    Imam al-Thahawi.
 تُطْلَبُ اْلمُصَافحَة فَهِيَ سُنَّة عَقِبَ الصَّلاةِ كُلّهَا وَعِندَ كلِّ لَقِيٍّ
Artinya: Bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim. 2.    Imam Izzuddin bin Abdissalam Beliau berkata :
 اَنَّهَا مِنَ اْلبِدَعِ المُبَاحَةِ
Artinya : (Mushafahah setelah shalat) adalah masuk dalam kategori bid’ah yang diperbolehkan.
3.    Syeikh Abdul Ghani an-Nabilisi Beliau berkata :
 انَّهَا دَاخِلَة تحْت عُمُوْمِ سُنّةِ اْلمُصَافحَةِ مُطْلقا
Artinya : Mushafahah setelah shalat masuk dalam keumuman hadits tentang mushafahah secara mutlak. 4.    Imam Muhyidin an-Nawawi Beliau berkata :

 اَنَّ اْلمُصَا فحَة بَعْدَ الصَّلاة وَدُعَاء المُسْلِمِ لآخِيْهِ اْلمُسْلِمِ بِأنْ يَّتقبَلَ الله مِنهُ صَلاتهُ بِقوْلِهِ (تقبَّلَ الله) لاَ يَخفى مَا فِيْهِمَا مِنْ خَيْرٍ كَبِيْرٍ وَزِيَادَةِ تَعَارُفٍ وَتألُفٍ وَسَبَب لِرِبَطِ القلوْبِ وَاِظهَار للْوَحْدَةِ وَالترَابُطِ بَيْنَ اْلمُسْلِمِينْ

Artinya : Sesungguhnya mushafahah setelah shalat dan mendoakan saudara muslim supaya shalatnya diterima oleh Allah, dengan ungkapan (semoga Allah menerima shalat anda), adalah di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan menambah kedekatan (antar sesama) dan menjadi sabab eratnya hati dan menampakkan kesatuan antar sesama umat Islam.
 (Disarikan dari buku Tradisi Amaliah NU dan Dalil-Dalilnya,

DIANTARA PESAN IMAM SYAFI'I PADA MURID NYA YG TERCINTA....



Dalam Kitab kitab sejarah menceritakan kepada Kita bahwa Yunus bin Abdil A’la adalah merupakan salah satu dari para santrinya Imam Safi’i..

Beliau pernah berbeda pendapat dengan gurunya yaitu Imam Syafi’i dalam satu masalah. Yaitu ketika Sang guru sedang menyampaikan pelajaran di sebuah mesjid. Karena perbedaan itu Yunus berdiri marah dan keluar meninggalkan pelajaran yang sedang disampaikan oleh Imam Syafi’i, Dia pergi menuju rumahnya.

Ketika waktu malam tiba, Yunus mendengar pintu rumahnya ada yang mengetuk.
Lalu Beliau bertanya: Siapa diluar dekat pintu?

Yang mengetuk pintu menjawab: Muhammad Bin Idris.

Kata Yunus: Aku berpikir,, dari semua orang yang ku kenal tidak ada yang bernama Muhammad bin Idris kecuali guruku Imam Syafi’i.

Kata Yunus: Begitu pintu Aku buka.. Aku sangat terkejut ternyata memang Beliau.

Lalu Imam Syafi’i berkata: Wahai Yunus… Ratusan masalah mempersatukan kita dan hanya karena satu masalah Kita berpisah.
Wahai Yunus.. janganlah Engkau berusaha menjadi pemenang dalam setiap debat dan berbeda pendapat!!

Karena meraih hati lebih utama dari pada meraih kedudukan di setiap saat.

Wahai Yunus.. janganlah Engkau robohkan jembatan yang telah Aku bangun dan telah Aku lalui.. karena bisa jadi jembatan itu akan Engkau butuhkan lagi untuk kembali di suatu saat nanti.

Bencilah terhadap perbuatan salah tapi janganlah Engkau membenci orang yang berbuat salah!!

Bencilah terhadap perbuatan maksiat dengan sepenuh hatimu tapi maafkanlah dan kasihanilah orang yang berbuat maksiat!!
Wahai Yunus.. Kritiklah dan sanggahlah pendapat tapi tetap hormatilah orang orang yang berpendapat!!

Karena sesungguhnya tujuan Kita sama yaitu memberantas penyakit bukan memberantas orang orang sakit…

WALLAHU A'LAM BISSAWAB 🌷

Keutamaan Bangun Pagi

*Assalamu'alaikum wr wb*

*KEUTAMAAN BANGUN PAGI*

Rasulullah ﷺ  bersabda: “Barangsiapa shalat subuh dengan berjamaah kemudian duduk untuk berdzikir kepada Alloh sehingga matahari terbit, lalu ia shalat dua rokaat  maka ia mendapat pahala seperti haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna, sempurna.”
                 
( HR. at-Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Albani ).

*MEMUJI ALLAH SAAT SUSAH DAN SENANG*

Rasulullah ﷺ  bersabda: “Orang yang pertama kali diseru untuk masuk Surga ialah mereka yang memuji Allah , baik ketika senang maupun susah”.
( HR. Thabrani, Hakim)

*UCAPAN YANG BAIK*

 “Tolaklah kalian terhadap api neraka walau dengan sekerat korma, jika tidak dapat maka hendaklah (bersedekah) dengan kalimat yang baik”
(Shahih Jami’).

*KEUTAMAAN ADZAN*

Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Alloh dan para Malaikat membaca sholawat untuk shaf pertama, sedang muadzin diberi ampunan sebatas suaranya. Ia dibenarkan (dijawab) oleh yang mendengarkannya, baik benda kering maupun basah, dan ia mendapat pahala orang yang sholat bersamanya (karena ia yang menyerunya).”
( HR. Ahmad dan Nasai ).

*BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN*

Rasulullah ﷺ bersabda "Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam syurga”.
( HR. Bukhari, Muslim )

*SHALAT DHUHA*

“Setiap tulang persendian kalian harus dishadaqahi, setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, amar ma’ruf adalah shadaqah, nahi munkar adalah shadaqah, yang demikian itu dapat terbalas dengan melakukan dua rakaat shalat Dhuha.

( HR. Muslim ).


*SEMOGA BERMANFAAT*

4 Waktu Yang Sangat Dianjurkan



4 WAKTU YANG SANGAT DI ANJURKAN UNTUK DIMAKMURKAN AGAR DOSA-DOSA TERHAPUS*

Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz berkata :
"Bagi seseorang yang melalui hidupnya dengan kelalaian, maksiat kemudian dia mau mengejar ketertinggalannya tersebut apakah bisa? Baru taubat umur sudah 50 atau 60 tahun apakah masih bisa?."

Jawaban Beliau adalah BISA, Yaitu dgn memakmurkan 4 waktu:

1. PERTAMA
Waktu antara Maghrib dan Isya' dgn membaca Quran, Ratib Haddad, Sholawat dan lain nya. Dan juga sholat Sunnah AWWABIN yang pahalanya bernilai 12 tahun ibadah (keterangan ada di bawah)

2. KEDUA
Waktu sebelum Shubuh walau hanya 15 menit, walau hanya 2 rakaat sholat beserta dzikir dan doa² nya.

3. KETIGA
Waktu antara Shubuh sampai Isyroq dgn dzikir, wirid yang sudah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu Alayhi Wasallam.

Rasulullah Shallallaahu Alayhi Wasallam bersabda :

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah lalu berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua raka'at, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah. Pahalanya sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 3403)

Menurut Al Habib Salim Asy Syatiri waktu isyroq adalah sekitar 16 menit stelah habis waktu Shubuh.

4. KEEMPAT
Waktu sebelum terbenam matahari yaitu dengan membaca dzikir & wirid tertentu.

✓ Apa itu sholat AWWABIN?
Menurut riwayat Ats Tsa’laby, Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu Alayhi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang berusaha menjauhkan tempat tidur (utk berdzikir atau mengerjakan shalat) antara maghrib dan isya maka Allah akan menghadiahkan dua istana di surga sebagai tempat peristirahatan orang-orang. Di dalamnya terdapat pohon seandainya orang-orang dari timur dan barat dikumpulkan buahnya masih lebih banyak dari mereka.

"Awwabin artinya orang yang banyak bertaubat/orang yang kembali pada ALLAH SUBHANAHU WA TA'AALA".

✓ Di awali dgn Sunnah ba'diyah Maghrib 2 rakaat, setelah selesai kemudian lakukan sholat awwabin 6 rakaat dgn Niat:

أصلي سنة الأوبين ركعتين لله تعالى

*USHOLLI SUNNATAL AWWABIN ROKA'ATAINI LILLAHI TA'ALA*

ARTINYA : Aku niat sholat sunnah Awwabin 2 roka'at karena ALLOH Subhanahu Wa Ta'aala. (2 raka'at 1 salam lbh afdzol). Namun jika ingin menggabungkan dua niat yaitu: niat sholat sunnah ba'diyah & sholat sunnah awwabin maka lafadz Niatnya :

أصلي سنة بعدية المغرب والأوبين ركعتين لله تعالى

*USHOLLI SUNNATA BA'DIYAH WAL AWWABIN ROK'ATAINI LILLAHI TA'ALA*

ARTINYA : Aku niat sholat sunnah ba'diyah maghrib dan sunnah awwabin 2 rokaat karena Allahu Ta'ala.

✓ Waktunya :
Menurut Imam Asy Syafi'i dilakukan di waktu antara Maghrib dan Isya’.

✓ Jumlah rokaatnya :
Sholat Awwabin dilakukan paling sedikit nya 2 rakaat atau 4 rokaat atau 6 rakaat, dan paling banyak 20 rakaat. (Imam Ghozali dlm kitab IHYA' paling tidak ada 6 rokaat sebagaimana Rasululloh pernah mengerjakannya)

✓ Manfaat atau Fadhilahnya :
📝 Dari Ammar bin Yasir bahwa Nabi Shallallaahu Alayhi Wasallam bersabda : “Barang siapa shalat setelah shalat Maghrib enam raka’at, maka diampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih lautan.” (HR Imam Thabrani)

📝 Ibnu Majah, Ibnu Huzaimah, dan Tirmidzi meriwayatkan hadits serupa dari Abu Hurairah Ra. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : “Barang siapa shalat enam raka’at antara Maghrib dan Isya’, maka Allah mencatat baginya pahala ibadah 12 tahun” (HR Imam Tirmidzi)

📝 Dari Abu Hurairah ra, Rasulallah Shallallaahu Alayhi Wasallam bersabda : “Siapa yang shalat enam rakaat TANPA DISELA dengan PEMBICARAAN, ia senilai ibadah selama dua belas tahun.” (HR Ibnu Majah).

✓ Surah yg dibaca setelah Al-fatihah :
Ayat yg dibaca ada berbagai macam sumber yg menyampaikan namun kita ambil saja pada raka'at pertama Al-Kaafirun dan raka'at kedua Al-Ikhlas supaya lebih mudah.

Atau jika ingin membaca ayat2 yang dianjurkan maka seper

ti dibawah ini:

1. Rokaat pertama : QS. Al Mu'minun 115-118 dan QS. Ar-Ruum ayat 17-19
2. Roka'at kedua : QS. As-Shoffat, Ayat 1-11
3. Rokaat ketiga : QS. Ghofir ayat 1-3ِ dan baca Ayat Qursyi
4. Rokaat ke 4 : At Taubah 128 - 129
5. Rokaat ke 5 : Al Kafiruun
6. Rokaat ke 6 : Al Ikhlas

📚 SUMBER : Kitab "Robi'ul Asror" Al Habib Hasan bin Ahmad Al Kaff - Madinah Al Munawwaroh.

(Yang di baca pada empat waktu tersebut sudah terangkum dalam Kitab Khulashoh Madaad An-Nabawi, kumpulan dzikir, wirid, sholawat susunan beliau Al-Imam Habib Umar Bin Muhammad Bin Salim Bin Hafidz BSA)

Wallahu'alam Bis-Showab
Semoga Berkah Bermanfaat Dunia Akhirat,
Aamiin.


Bersiwak Atau Menggosok Gigi



Gosok gigi atau bersiwak sekilas terlihat sepele, tapi sesungguhnya mempunyai peranan penting, baik terkait interaksi sosial maupun pelaksanaan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan seseorang ketika diskusi bersama orang lain dengan jarak yang sangat dekat tiba-tiba mencium bau mulut tidak sedap. Bukankah itu mengganggu? Begitu pula orang yang sedang melaksanakan shalat. Karena tidak gosok gigi, sisa-sisa makanan yang ada di mulut bisa amat mengganggu konsentrasi shalat atau kalau tertelan malah justru bisa membatalkan shalat. Ternyata ada banyak hikmah dari gosok gigi yang disunnahkan oleh syariat tersebut.
  Baca: Apakah Gosok Gigi Perlu Niat Khusus?   Gosok gigi atau bersiwak cukup penting diperhatikan. Bahkan, kita disunnahkan mengajari anak kecil bersiwak.
 Tujuannya bukan untuk kesehatan mulutnya semata tapi juga membiasakan mereka melakukan kesunahan-kesunahan sejak dini sebagai bekal kelak saat dewasa.

 قَالُوا وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُعَوِّدَ الصَّبِيَّ السِّوَاكَ لِيَأْلُفَهُ كَسَائِرِ الْعِبَادَاتِ
Artinya: “Para ulama mengatakan bahwa disunnahkan untuk melatih kebiasaan anak kecil untuk bersiwak supaya anak terbiasa melakukannya sebagaimana ibadah-ibadah yang lain,” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, [Dar al-Fikr], juz 1, hal. 283). Dalam bersiwak diutamakan memakai jenis kayu arok, namun apabila menggunakan selain kayu tersebut yang penting adalah kasar seperti gosok gigi, maka tetap mendapatkan kesunnahan. Demikian disampaikan banyak ulama termasuk di antaranya Imam Nawawi.  Bersiwak juga disunnahkan dilakukan secara berulang kali untuk shalat yang mempunyai takbiratul ihram berulang-ulang seperti shalat tarawih, dhuha, shalat qabliyah ba’diyah empat rakaat yang dilakukan dengan dua kali salam, dan lain sebagainya. Kesimpulan ini diambil dari redaksi hadits yang menggunakan frasa “niscaya saya perintahkan kepada mereka untuk bersiwak setiap kali shalat.”

 إذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً ذَاتَ تَسْلِيمَاتٍ كَالتَّرَاوِيحِ وَالضُّحَى وَأَرْبَعَ رَكَعَاتٍ سُنَّةَ الظُّهْرِ أَوْ الْعَصْرِ وَالتَّهَجُّدَ وَنَحْوَ ذَلِكَ اُسْتُحِبَّ أَنْ يَسْتَاكَ لِكُلِّ رَكْعَتَيْنِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَمَرْتهمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ أَوْ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ كَمَا سَبَقَ
  Artinya: “Jika ada orang yang ingin melakukan shalat yang mempunyai banyak salam seperti shalat tarawih, dhuha, shalat empat rakaat sunnah dzuhur dan ashar, tahajjud, dan lain sebagainya, maka disunnahkan bersiwak setiap kali dua rakaat karena berdasar sabda Rasulullah ﷺ ‘niscaya akan aku perintahkan kepada mereka untuk bersiwak pada setiap kali shalat.’ Hadits tersebut shahih,” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, hal. 283). 
 Keterangan-keterangan di atas menunjukkan betapa siwak atau gosok gigi merupakan kegiatan yang tidak wajib tapi perlu kita perhatikan sebab sedemikian pentingnya. Lalu bagaimana tata cara gosok gigi atau bersiwak yang disunnahkan? Berikut kesunnahan dalam bersiwak sesuai dengan kitab Al Baijuri, juz 1, halaman 84-85:
  Pertama, dimulai dari niat. Orang yang gosok gigi secara kebetulan atau memang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, bisa tak mendapat kesunnahan bersiwak ketika dijalankan tanpa niat melakukan kesunahan.
 Kedua, bersiwak menggunakan tangan kanan. Hal ini dilakukan karena mengikuti perilaku Rasulullah ﷺ, yang ketika menjalankan hal-hal baik menggunakan tangan kanan. Hal ini juga sebagai pembeda antara bersiwak dan istinja’ (cebok) atau kegiatan yang identik dengan barang kotor lainnya. 
 Ketiga, jari kelingking berada di bawah batang siwak (atau sikat gigi). Sedangkan jari manis, jari tengah dan jari telunjuk berada di atas batang siwak dan jempol berada di bawah bagian kepada siwak. Setelah bersiwak, hendaknya batang siwak diletakkan di bagian belakang telinga kiri.

 ويسن ان يجعل الخنصر من اسفله والبنصر والوسطى والسبابة فوقه والإبهام اسفل رأسه ثم يضعه بعد ان يستاك خلف أذنه اليسرى لخبر فيه Artinya: “Disunnahkan menjadikan jari kelingking berada di bawah batang siwak, sedangkan jari manis, tengah dan telun

juk di atasnya dan jempol di bagian atas kepala siwak. Setelah bersiwak, kayu siwak diletakkan di belakang telinga bagian kiri. Hal ini berdasarkan hadits Baginda Nabi Muhammad ﷺ,” (Ibrahim Al-Bayjuri, Hasyiyah Syekh Ibrahim Al-Bayjuri, [Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut], juz 1, hal. 84).  Masih dalam kitab yang sama, sebagian ulama menyunnahkan membaca doa berikut pada saat permulaan gosok gigi:

 اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ، وَشُّدُّ بِهِ لِثَاتِىْ، وَثَبِّتْ بِهِ لَهَاتِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ ياَ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allâhumma bayyidl bihî asnânî, wa syuddu bihî litsâtî, wa tsabbit bihî lahâtî, wa bârik fîhi, yâ Arhamar Râhimîn. Artinya:
 “Ya Allah, semoga Engkau putihkan gigi-gigiku, kokohkan gusi-gusiku, kuatkan katup nafas kami, berilah kami keberkahan, wahai Dzat yang Maha-paling kasih.” 
  Keempat, disunnahkan menelan ludah pada kali pertama memulai bersiwak walaupun kayu atau batang siwak yang dibuat untuk gosok gigi tidak dalam kondisi baru. Ada kesunnahan menyuci batang siwak pada setiap kali bersiwak.  Kelima, panjang batang sikat gigi atau kayu siwak makruh jika lebih panjang dari satu jengkal. Apabila lebih dari satu jengkal, konon setan numpang naik pada sisi lebihnya.
 Keenam, disunnahkan ada guritan-guritan celah pada kayu siwak, atau kalau dalam sikat gigi ada sudah cukup karena ada bulu-bulunya. 
 Ketujuh, bersikap tenang dan diam. Makruh bersiwak sambil berbicara atau berbincang dengan orang lain.  Kedelapan, disunnahkan memulai bersiwak dari area mulut bagian kanan sampai separuh. Baru kemudian bagian separuh yang kiri. Hal itu berlaku untuk bagian dalam daripada gigi serta gigi bagian luar.  Kesembilan, sunnah menggosok bagian pangkal gigi geraham baik secara membujur maupun melintang.
  Kesepuluh, sunnah menggosok bagian langit-langit mulut dan gigi-gigi yang masih tersisa secara melintang.  Kesebelas, menggosok bagian lidah secara membujur.  Kedua belas, gosokan-gosokan dilakukan secara lembut dan pelan-pelan. Wallahu a’lam.


MUJAHADAH DAN CARA MENGOBATI NAFSU


المجاهدة وعلاج الانفس السبعة
     Mujahadah menurut arti bahasa, yaitu Perang. Menurut arti syariat yaitu memerangi musuh Alloh, akan tetapi menurut arti istilah ulama’ ahli thoriqot/Haqiqot yaitu memerangi hawa nafsu, terutama nafsu Ammaroh.
Rosululloh saw. Bersabda :
 المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله
  “orang yang berjuang (perang sejati) yaitu, orang yang perang melawan hawa nafsunya didalam masalah taat kepada Alloh.”
 Bahkan berperang melawan hawa nafsu, menurut Nabi disebut perang yang agung/besar, tentu balasannya juga besar.
 Rosululloh bersabda :

قد رجعنا من الجهاد الاصغر الى الجهاد الاكبر قالوا وما الجهاد الاكبر يا رسول الله ؟ قال جهاد النفس
 “ Sebenarnya kita pulang dari perang kecil dan menuju ke perang yang besar, lalu para sahabat bertanya : perang besar apalagi ya Nabi? Nabi saw. Menjawab : perang besar yaitu perang melawan hawa nafsu”.
  Sebaiknya para ikhwan yang mengamalkan Thoriqoh, supaya melakukan mujahadah, sebab mujahadah itu termasuk penyebab wushul ila-lloh yang agung.  Syeih dhiya’ud-din Ahmad Mustofa berkata : 
                               والمجاهدة فى الله من اعظم اسباب الوصول الى الله “Mujahadah karena Alloh itu termasuk penyebab wushul ila-lloh yang paling besar.”       
   Ket, kitab متممات جامع الاصول  hal 221.
Syeih Abu Ali Ad-Daqoq berkata :
من زين ظاهره بالمجاهدة حسن الله سرائره بالمشاهدة واعلم ان من لم يكن فى بدايته صاحب مجاهدة لم يجد من هذه الطريقة شمعة تنير له الطريق
 “ Barang siapa menghias angota lahirnya dengan mujahadah, maka Alloh memperbaiki anggota batinnya (hatinya) dengan Musyahadah. Ketahuilah, sesungguhnya orang yang pada tingkat permulaannya tidak mujahadah, maka pelaksanaan thoriqohnya tidak akan menemukan penerang/nur, yang menerangi jalan menuju Alloh (wushul ila-lloh)”.    Ket, kitab رسالة القشيريه  hal 98


Khasiat Basmalah 5

*KHASIAT BISMILLAH LIMA ~*

بسم الله الرحمن الرحيم
1. Bismillahir Rahmanir Rahiim

بسم الله الشافي
2. Bismillahish Shaafii

بسم الله الكافي
3. Bismillahil Kaafii

بسم الله المعافي
4. Bismillahil Mu’aafii

بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شىء في الارض ولا في السماء وهو السميع العليم
5. Bismillahil ladzhi laa ya dhurru ma’as mihi syai un fil ardhi wala fis samaa-e wa huwas samii’un ‘alim

*Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang*

*Dengan nama Allah Yang Menyembuhkan*

*Dengan nama Allah Yang Mencukupkan*

*Dengan nama Allah Yang Memberikan kesihatan yang baik*

*Dengan nama Allah yang tidak memberi kemudaratan dengan namanya akan sesuatu pun di dunia dan di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui*

*ANTARA FUNGSI BISMILLAH 5*

*Penawar bisa diri*

*Penawar kepada penyakit bisa-bisa tulang*

*Penawar bisa-bisa badan*

*Penawar bisa batu merian*

*Boleh digunakan untuk mengubati sakit yang tidak diketahui puncanya*

*Cara menggunakan Bismillah 5*

1. Letakkan tangan di tempat yang sakit, tarik nafas, baca Bismillah 5 tujuh kali dan tiup di tempat yang sakit.

2. Kalau anak menangis di tengah malam, baca Bismillah 5 ini dan hembus pada ubun-ubun bayi.

3. Kalau anak demam, baca dan hembus pada air 19x, kemudian lap badan anak dengan air tersebut sekerap mungkin sambil berselawat.

*Kesan Sampingan*

Dengan mengamalkan Bismillah Lima akan menyebabkan segala jenis racun menjadi tawar serta tidak mendatangkan mudharat jika terminum. Gelas yang dipegang oleh pengamal Bismillah Lima akan pecah pecah dengan sendirinya jika kandungannya mengandungi racun.



*۞ Allahumma solli 'ala Sayyidina Muhammad Wa'Ala Ali Sayyidina Muhammad ۞*

Qomus Mobo Isat 2019

                                 Aktifasi Kuota Data Isat

                                        Bok Menawi lali


Aktifasi voucher gesek



Cek Ongkir/pengiriman

Jam

Tanggal

cek