Tampilkan postingan dengan label pepeling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pepeling. Tampilkan semua postingan

Memberikan Lima Hal, Menyediakan Lima Hal


Bab 5 maqolah ketiga 

وقال النبي عليه السلام: لا يعطى الله لأحد خمسا إلا وقد أعد له خمسا أخرى

Nabi ﷺ bersabda, “Allah tidak memberikan lima hal kepada seseorang, kecuali Allah telah menyediakan lima hal yang lainnya:

لا يعطيه الشكر إلا وقد أعد له الزيادة

Allah tidak memberikan kesempatan untuk bersyukur, kecuali Dia telah menyediakan nilai tambahan

ولا يعطيه الدعاء إلا وقد أعد له الإستجابة

Allah tidak memberikan kesempatan untuk berdo’a. kecuali Dia telah menyediakan pintu ijabah

ولا يعطيه الإستغفار إلا وقد أعد له الغفران

Allah tidak memberikan kesempatan untuk beristighfar, kecuali Dia telah menyediakan pintu ma’af

ولا يعطيه التوبة إلا وقد أعد له القبول

Allah tidak memberikan kesempatan untuk bertaubat, kecuali Dia telah menyediakan pintu Qabul (penerimaan Taubat)

ولا يعطيه الصدقة إلا وقد أعد له التقبل

Allah tidak memberikan kesempatan untuk bersedekah, kecuali Dia telah menyediakan baginya pintu penerimaan.

Keterangan :

Berkaitan dengan poin 1, Allah ta’ala berfirman, “Sungguh, bila kalian bersyukur, pasti Aku akan menambahkan (nikmat) kepada kalian.” (QS. Ibrahim (14): 7)

Berkaitan dengan poin 2, Allah ta’ala berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan do’a kalian.” (QS. Al-Mukmin (40): 60)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. biasa berdo’a dengan do’a berikut, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang mempercayai akan pertemuan dengan-Mu, ridha akan ketetapan-Mu, dan qana’ah atas pemberian-Mu.” (HR. Thabarani)

Berkaitan dengan poin 3, Allah ta’ala berfirman, “Mohonlah ampunan kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia merupakan Maha Pengampun.” (QS. Nuh (71): 10)

Rasulullah ﷺ. pun bersabda, “Sesungguhnya kalian berbuat dosa hingga dosa kalian setinggi langit, setelah itu kalian bertaubat, niscaya Allah akan mengampuni dosa kalian.” (HR. Ibnu Majah)

Berkaitan dengan poin 4, Rasulullah ﷺ. bersabda, “Disekitar ‘Arsy terdapat tulisan yang berumur 4.000 tahun sebelum dunia diciptakan. Tulisan tersebut berbunyi: ‘Wa innii laghoffaarun liman taaba wa aamana wa ‘amila shoolihan tsummah tadaa.’” (Sesungguhnya aku Maha Pengampun untuk setiap orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shaleh, setelah itu ia berusaha untuk mendapatkan petunjuk). (HR. Dailami)

Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Sesungguhnya kalian berbuat dosa hingga dosa kalian setinggi langit, setelah itu kalian bertaubat, niscaya Allah akan mengampuni dosa kalian.” (HR. Ibnu Majah)

Berkaitan dengan poin 5, Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap orang akan berada dalam naungan shadaqahnya hingga ia menerima keputusan masalah yang berkaitan dengan manusia lainnya.” (HR. Imam Ahmad)

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Tiada seorang hamba yang menshadaqahkan sesuatu semata-mata mencari ridha Allah, kecuali Allah berfirman di hari Kiamat nanti: ‘Wahai hamba-Ku, engkau telah mengharapkan keridhaan-Ku, maka di hari ini aku tidak akan menghinakan dirimu. Aku haramkan tubuhmu tersentuh api neraka dan masuklah ke dalam surga dari pintu mana yang engkau kehendaki.’” (HR. La-aal)


Level Istilah Silsilah Jawa

 

10 Level Istilah Silsilah

Berikut adalah istilah untuk level keturunan (ke bawah) dan level leluhur (ke atas) dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa, setiap level garis keturunan mempunyai istilah sampai tingkat sepuluh ke atas dan sepuluh ke bawah.

10. galih asem (mbah galih asem)
9. debog bosok (mbah debog bosok)
8. gropak sente (mbah gropak sente)
7. gantung siwur (mbah gantung siwur)
6. udeg-udeg (mbah udeg-udeg)
5. wareng (mbah wareng)
4. canggah (mbah canggah)
3. buyut (mbah buyut)
2. embah
1. bapak

0. kita/anda

1. anak
2. putu
3. buyut (putu buyut)
4. canggah (putu canggah)
5. wareng (putu wareng)
6. udeg-udeg (putu udeg-udeg)
7. gantung siwur (putu gantung siwur)
8. gropak sente (putu gropak sente)
9. debog bosok (putu debog bosok)
10. galih asem (putu galih asem)

Melihat peristilahan ini, bisa terlihat, sejak keturunan ke tiga, baik ke atas dan/atau ke bawah, nama panggilan yang digunakan adalah sama. Untuk mencegah kekeliruan, level ke atas (leluhur) ditambahkan  embah sebelumnya (misal, mbah buyut, mbah canggah dst), sedangkan level ke bawah (keturunan) ditambahkan istilah putu di depannya (misal putu buyut, putu canggah, putu wareng, dst).

..

Berikut adalah istilah untuk level keturunan (ke bawah) dan level leluhur (ke atas) dalam Bahasa Jawa :

Moyang ke-18. Mbah Trah Tumerah
Moyang ke-17. Mbah Menya-menya
Moyang ke-16. Mbah Menyaman
Moyang ke-15. Mbah Ampleng
Moyang ke-14. Mbah Cumpleng
Moyang ke-13. Mbah Giyeng
Moyang ke-12. Mbah Cendheng
Moyang ke-11. Mbah Gropak Waton
Moyang ke-10. Mbah Galih Asem
Moyang ke-9. Mbah Debog Bosok
Moyang ke-8. Mbah Gropak Senthe
Moyang ke-7. Mbah Gantung Siwur
Moyang ke-6. Mbah Udheg-udheg
Moyang ke-5. Mbah Wareng
Moyang ke-4. Mbah Canggah
Moyang ke-3. Mbah Buyut
Moyang ke-2. Simbah, dalam bahasa Indonesia disebut Eyang
Moyang ke-1. Bapak / Ibu
KITA <====

Keturunan ke-1. Anak
Keturunan ke-2. Putu, dalam bahasa Indonesia disebut “cucu”
Keturunan ke-3. Buyut, dalam bahasa Indonesia disebut “cicit”
Keturunan ke-4. Canggah
Keturunan ke-5. Wareng
Keturunan ke-6. Udhek-udhek
Keturunan ke-7. Gantung siwur
Keturunan ke-8. Gropak Senthe
Keturunan ke-9. Debog Bosok
Keturunan ke-10. Galih Asem
Keturunan ke-11. Gropak waton
Keturunan ke-12. Cendheng
Keturunan ke-13. Giyeng
Keturunan ke-14. Cumpleng
Keturunan ke-15. Ampleng
Keturunan ke-16. Menyaman
Keturunan ke-17. Menya-menya
Keturunan ke-18. Trah tumerah

Semoga manfaat.

AMALAN YANG PALING SULIT DIAMALKAN

Menjadi seorang muslim bukan hanya sekedar pengakuan saja, tapi juga harus dibuktikan dengan tindakan. Yakni dengan menjauhi larangan Allah, melaksanakan perintahNya, dan melakukan berbagai macam amal shalih. Setiap amal shalih yang kita lakukan pasti akan Allah balas dengan lebih baik, juga akan sesuai dengan tingkat kesulitan dan apa yang kita korbankan. Dalam kitab karangan Imam An-Nawawi, Nashaihul Ibad, terdapat kutipan perkataan Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra. yang menyebutkan tentang amalan yang paling sulit untuk diamalkan.

“Amalan yang paling sulit untuk diamalkan itu ada empat, yaitu : 

(1) Memberi maaf ketika marah, 

(2) Bermurah hati ketika sulit, 

(3) Iffah (memelihara diri dari yang haram) ketika sendirian, dan 

(4) Mengatakan kebenaran baik kepada orang yang disegani maupun orang yang mengharapkannya.” (Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra).

Meskipun dalam melaksanakan hal-hal tersebut pasti akan sulit, tapi ingat bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Kita meski berusaha melakukannya dengan sepenuh hati.

Dalam ungkapan sayyidina Ali bin Abu Thalib ra diatas, empat amalan yang paling sulit untuk diamalkan adalah sebagai berikut :

  1. Memberi maaf saat marah

Meskipun Rasulullah telah menasihati kita dengan bersabda,

 “Janganlah marah maka bagimu surga.” (HR. At-Thabrani) Tapi kemarahan terkadang disebabkan oleh berbagai hal yang tidak kita prediksi ataupun tidak sesuai dengan harapan kita. Namun seringkali kemarahan kita disebabkan oleh ulah seseorang. Maka, janganlah kemarahan kita berlarut terlalu lama dan menjadikan diri kita sebagai pendendam. Lebih baik untuk segera memaafkannya, meskipun itu adalah hal yang berat.

Allah berfirman :

 “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah : 263).

Memberi maaf itu akan memperteguh jiwa. Dan orang yang pemaaf akan mendapatkan kemuliaan. Rasulullah bersabda:

 “Allah tidak menambahkan pada hamba yang memaafkan melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim).

  1. Bermurah hati ketika sulit

Keadaan yang sulit pasti akan membuat kita untuk memerdulikan diri sendiri. Dan kebanyakan orang merasa pantas bahwa dirinya tidak perlu bersedekah karena dalam keadaan yang sulit. Padahal bersedekah dalam keadaan sulit merupakan sedekah yang utama. Diriwayatkan seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang sedekah yang paling afdol. Lalu Rasulullah menjawab, “Sedekah dari orang yang serba kekurangan.” (HR An-Nasa’i).

Allah tidak menerima banyaknya sedekah yang kita keluarkan, sebab pada hakikatnya semuanya adalah milik Allah, hanya Allah lah yang Maha Kaya. Allah hanya menerima keikhlasan dan ketakwaan orang yang bersedekah. Maka Rasulullah pun pernah bersabda : 

 “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham.” Kemudian, muncul pertanyaan, “Bagaimana bisa, wahai Rasulullah?” Beliau pun menjelaskan, “Ada seseorang yang mempunyai dua dirham, lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada juga seseorang yang hartanya banyak sekali, lalu mengambil seratus ribu dirham dari kantongnya untuk disedekahkan.” (HR. An-Nasa’i).

Maka, keadaan sempit bukanlah alasan bagi kita untuk tidak bersedekah. Sebab Rasulullah bersabda : “Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (HR. Bukhari).

  1. Menjaga diri dari yang haram disaat sendiri

Poin pertama keimanan adalah percaya bahwa Allah itu wujud, dan Allah itu Rabb alam semesta. Dan juga percaya bahwa Allah itu memiliki nama-namaNya yang 99 itu. Jadi, harus kita yakini bahwa Allah itu Maha Mengetahui. Ditambah dengan poin kedua, yaitu percaya bahwa ada malaikat-malaikat dan tugas-tugasnya. Maka orang beriman itu harus percaya terdapat malaikat yang selalu berada di sisi kita, untuk mengawasi setiap perbuatan kita.Maka, orang yang beriman dalam kesendiriannya pun harus mengingat Allah. 

Dikatakan bahwa menjaga diri dari hal haram adalah suatu yang sulit sebab, terkadang suatu yang haram itu yang diinginkan oleh nafsu kita. Melawan hawa nafsu dan juga bisikan setan sekaligus bukanlah perkara yang mudah. Dalam sejarah disebutkan contohnya seperti, kisah Nabi Yusuf yang diajak berzina oleh wanita cantik namun menolaknya sebab takut pada Allah.

  1. Berkata benar di depan orang yang disegani

Bagi seorang mukmin, sudah sepantasnya untuk kita memiliki sifat jujur. Rasulullah bersabda : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari). Berkata benar di depan orang yang disegani merupakan hal yang sulit. Tapi bisa kita lakukan jika kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang kita takuti. Dan meyakini bahwa dengan diamnya diri kita (menyimpan kebenaran) sama saja dengan mendukung kemungkaran, dan siksa Allah lebih pedih.

Kak, yuk kita maksimalkan untuk terus beramal shalih. Meskipun terkadang berat kita rasakan, tapi pasti Allah berikan kemudahan untuk kebaikan.

Islam terpecah menjadi 73 golongan

1. Golongan Syi'ah 22 aliran 
2. Golongan Khawarij 20 aliran 
3. Golongan Mu'tazillah 20 aliran
4. Golongan Murjiah 5 aliran
5. Golongan Najariah 3 aliran
6. Golongan Jabariah 1 aliran 
7. Golongan Musyabbihah/ Mujassimah 1 
aliran. 
8.  1(Satu) Golongan yang Selamat/Lurus yaitu Al Jamaah (Ahlussunah Waljamaah)

1️⃣ Golongan *Syi'ah* berlebih lebihan memuja Sayyidina Ali ra dan Sayyidina Husein ra. Mereka tidak mengakui khalifah-khalifah Abu bakar, Umar dan usman radhiyallahu'anhum dan keluarganya. Dan sangat membenci dan melaknat nya. Padahal mereka adalah orang yg dijamin Surga Alllah dan Orang orang pilihan Nabi SAW dan ada beberapa sahabat Nabi dimakamkan di samping makam Nabi SAW. Ciri golongan mereka ini yaitu *Membenci dan Memusuhi Sahabat Nabi SAW*

2️⃣Golongan *Khawarij* mereka berlebih-lebihan membenci sayyidina Ali ra. Bahkan ada diantara mereka yg mengkafirkan sayyidina Ali ra. Golongan ini sangat menghalalkan darah sesama Umat Islam yg berbeda pandangan dengan Pemahamannya padahal masih ahli kiblat. Dan Moyang  khawarij ini adalah Dzul Quwaisiroh yang menghardik Nabi SAW pada saat Nabi SAW membagikan harta rampasan perang. Dan gemerasi khawarij akan terus berlanjut dengan kemunculan Abdurrahman ibnu muljam yang membunuh Sayyidina Ali ra pada saat beliau akan memimpin Imam sholat shubuh.
Ciri Golongan ini yaitu Sangat *Membenci Keturunan/ Dzuriyah Nabi SAW* dan bahkan mengatakan bahwa keturunan Nabi sudah terputus. Padahal berbalik fakta dengan sabda Nabi SAW bahwa Imam Mahdi adalah dari keturunanku. 

3️⃣ Golongan *Mu'tazillah* mereka berpaham bahwa Allah tidak mempunyai sifat, bahwa  manusia membuat pekerjaannya sendiri, bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata didalam syurga Dan lain-lain. 

 4️⃣ Golongan *Murji'ah* yg memfatwakan bahwa membuat ma'siyat tidak memudharatkan kalau sudah beriman. Membuat kebaikan tidak manfa'at kalau kafir. 

5️⃣ Golongan *Najariah* Yang memfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yakni dijadikan Allah, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Allah tidak Ada. 

6️⃣  Golongan *Jabariah* Yang memfatwakan bahwa manusia tidak berdaya apa-apa (tidak ada usaha sama sekali) 

7️⃣  Golongan *Musyabihah* yang memfatwakan ada keserupaan Allah dengan  manusia atau mahluknya, umpamanya  bertangan, berwajah, berkaki, mempunyai betis duduk dikursi, naik tangga, turun tangga, naik dan turun dari Langit ke Bumi dll. 

   *PERHATIAN*

Kaum Qadariyah termasuk kaum Mu'tazillah, kaum bahaiyah dan Ahmadiah termasuk kaum syi'ah.

 Yang lurus cuma satu golongan yaitu  *Al Jamaah* atau umum dinamakan *Ahlussunnah Wal Jama'ah* yaitu Golongan Shawadul adzhom (Yang Terbanyak/ Mayoritas) yg selamat karena Mengikuti Jalan Pemahaman Nabi SAW dan Sahabat sahabat nya dan Kaum yg terdahulu(Salafusholeh).

Empat Amalan yang terasaBerat dilakukan


Terdapat 4 perkara yang sulit dilakukan umat 

Dalam Nashaihul 'Ibad disebutkan bahwa sahabat Ali bin abi thalib berkata, "Amal yang paling sulit itu ada empat, yaitu : 

1.memaafkan pada saat marah, 

2.dermawan saat sedang kesulitan, 

3.menjaga diri dari perbuatan tidak terpuji saat sendirian, 

4. berkata yang sebenarnya kepada orang yang disegani  atau orang yang diharapkan kebaikannya."

Memaafkan pada saat marah. Kita marah tidak dilarang asalkan ada alasan logis dan berlandaskan agama. Namun, menahan amarah dan terlebih lagi memaafkan ketika dalam puncak kemarahan itu jauh lebih baik dan lebih mulia. Emosi dan amarah datangnya dari bisikan setan, sedangkan menahan amarah dan memaafkan datang dari bisikan nurani.

Rasulullah berkata, "Siapa yang mampu menahan marahnya, berlapang dada, selalu berbuat kebaikan, menyambut silaturahim, dan menunaikan amanah, niscaya Allah pada Hari Kiamat akan memasukkan dia ke dalam cahaya-Nya yang agung," (HR Ad-Dailami). Dermawan saat ekonomi sulit. Bagaimana logikanya?

Dermawan itu saat kita memiliki kelebihan harta benda, bukan? Namun, tidak demikian dengan orang yang beriman, bagi mereka dermawan tidak ada waktu dan batasnya karena memang harus setiap saat, baik sedang kesulitan ekonomi maupun sedang lapang dalam urusan rezeki.

Memiliki kelebihan harta ataupun tidak, dermawan tetap berjalan karena yakin Allah pasti berkomitmen, mustahil ingkar,  terhadap firman-Nya. Satu rupiah kita keluarkan, balasannya pasti akan lebih dari itu asalkan kita yakin dengan janji Allah. Bagi orang beriman, balasan Allah bukan semata-mata tujuan karena menyenangkan orang lain dengan rezeki yang kita miliki itu jauh lebih utama dari apa pun.

Menjaga diri dari perbuatan tidak terpuji saat sendirian. Terkadang kita sering menampilkan diri sesaleh mungkin di depan orang lain. Namun, saat sendirian, kita malah asyik dengan kemaksiatan karena merasa bebas dan tidak ada orang lain yang melihat. Padahal, Allah tentu saja melihat segala apa yang kita lakukan—jangankan itu, isi hati kita saja Allah tahu.

Menjadi hamba Allah yang sempurna memang susah—bahkan mustahil—karena kita tempatnya berbuat khilaf dan salah. Namun, hal itu bukan alasan untuk kita berleha-leha asyik dengan kemaksiatan ketika sendirian. Ingat, Allah menonton perilaku kita. Sejatinya, kita malu kalau saat sendirian iman dan akhlak saleh kita malah kalah dengan ajakan setan.

Berkata yang sebenarnya kepada orang yang disegani atau orang yang diharapkan kebaikannya. Menyampaikan kebaikan kepada orang yang disegani atau ditakuti, kepada penguasa, misalnya, memang perbuatan sulit, kecuali orang-orang yang beriman yang diikuti hati yang ikhlas tanpa pernah sekalipun sombong di hadapan orang yang dinasihati.

Kebenaran adalah kebenaran meskipun ditenggelamkan ke dalam tanah. Orang beriman akan menyampaikan kebenaran itu kepada siapa pun, termasuk pada penguasa walaupun harus menanggung akibatnya—jika si penguasa tersinggung. Namun, kita yakin bahwa kebenaran apabila disampaikan dengan cara yang baik, mustahil menyinggung orang lain.

Apa pun alasannya, menyampaikan kebenaran atau nasihat kepada penguasa adalah wajib meskipun hal itu pahit dirasakan. Allah akan menolong seorang hamba-Nya apabila ia istiqamah dalam kebaikan dan amal saleh di hadapan siapa pun. Mari kita mengukur kualitas iman kita dengan empat amal yang disebutkan di atas. 


Cek Ongkir/pengiriman

Jam

Tanggal

cek